Langsung ke konten utama

Gen Z Menganggur 3 Tahun Meski Sudah Kirim 300 Lamaran! Ada Apa dengan Dunia Kerja Sekarang?

Saat Rakyat Menganggur, Wakil Menteri Rangkap Jabatan di BUMN: Di Mana Hati Nurani?

 


       Di tengah bayang-bayang krisis ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran, kabar mengenai puluhan Wakil Menteri (Wamen) Kabinet Indonesia Maju yang merangkap jabatan sebagai komisaris di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengundang kritik dan pertanyaan dari publik. Ketika jutaan rakyat masih berjuang mencari pekerjaan, mengapa justru kursi empuk di BUMN diisi oleh mereka yang sudah memiliki jabatan di pemerintahan?

        Per 10 Juli 2025, tercatat 30 Wakil Menteri aktif merangkap jabatan sebagai komisaris atau komisaris utama di berbagai perusahaan BUMN. Nama-nama seperti Giring Ganesha, Diaz Hendropriyono, Silmy Karim, hingga Suahasil Nazara muncul dalam daftar panjang tersebut. Jabatan komisaris ini bukan hanya simbolis, namun juga datang dengan gaji dan tunjangan jumbo.

        Di sisi lain, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, angka pengangguran terbuka di Indonesia masih berada di angka 5,4 juta orang, sebagian besar merupakan lulusan muda yang sulit mendapatkan akses kerja yang layak. Banyak dari mereka bahkan harus beralih ke sektor informal, menjadi pengemudi ojek online, pedagang kaki lima, hingga pekerja lepas tanpa jaminan sosial.

       


     Pertanyaannya sederhana: Mengapa jabatan strategis di BUMN tidak diberikan kepada profesional muda atau mereka yang kompeten, namun masih menganggur? Bukankah BUMN sebagai alat negara seharusnya menjadi lokomotif pemerataan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja?

         Fenomena rangkap jabatan ini tak hanya menimbulkan potensi konflik kepentingan, namun juga menjadi simbol ketimpangan sosial yang menyakitkan. Sementara satu orang bisa memegang dua hingga tiga posisi strategis dengan gaji miliaran rupiah per tahun, jutaan rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dasar.

      Lebih mengkhawatirkan lagi, beberapa dari mereka yang merangkap jabatan tidak memiliki latar belakang atau pengalaman di bidang perusahaan yang diawasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah pengangkatan tersebut berdasarkan profesionalisme, atau sekadar bagi-bagi kekuasaan dan loyalitas politik?

       Rakyat tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya ingin keadilan. Ketika yang menganggur masih berderet panjang, dan pemuda-pemudi Indonesia mencari-cari celah untuk bekerja, ironis rasanya menyaksikan pejabat publik menikmati kursi ganda. Pemerintah seharusnya menjadi teladan dalam efisiensi dan keadilan, bukan justru memperlebar jurang ketimpangan.

       Kini saatnya para pemimpin negara merenung dan menjawab satu pertanyaan penting: Apakah jabatan rangkap ini untuk kemajuan bangsa, atau hanya untuk segelintir orang?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korban Bullying dan Guru Jahat! Siswa Ini Dipermalukan Sebelum Meninggal Dunia”

> Orangtua Hanya Bisa Menangis… “Anak Saya Tidak Pernah Mengadu, Tapi Terlalu Sakit untuk Bertahan”        Garut kembali berduka. Seorang siswa SMA berprestasi yang dikenal pendiam dan baik hati, ditemukan tak bernyawa di rumahnya tepat pada hari pertama ia harus memulai sekolah baru. Di balik senyum yang ia sembunyikan, ternyata tersimpan luka akibat perundungan brutal di lingkungan sekolah lamanya. Fakta demi fakta terkuak, dan masyarakat pun terperangah: Benarkah teman-teman sekelas dan gurunya ikut berperan dalam tragedi ini? 🔴 Kronologi Mengerikan di Balik Wajah Lugu P   Korban berinisial P (16 tahun), siswa kelas X di salah satu SMA di Garut.      Ia dituduh teman-temannya sebagai pelapor kasus vape, padahal tak pernah melaporkannya.       Tuduhan palsu itu memicu penghinaan, pengucilan, hingga pengeroyokan di dalam kelas. Bahkan beberapa siswa menganiayanya secara fisik.      Saat ia mencoba menyelamatkan ...

Tak Perlu ke Kantor Desa, Urus Surat Pindah Penduduk Kini Bisa dari Rumah!

   Di zaman serba digital seperti sekarang, mengurus administrasi kependudukan tak lagi harus ribet. Salah satu kemudahan yang kini bisa dinikmati masyarakat adalah pengurusan surat pindah penduduk tanpa harus datang langsung ke kantor desa. Cukup dari rumah, prosesnya cepat, mudah, dan praktis!      Dulu, warga yang ingin pindah domisili harus meluangkan waktu khusus untuk datang ke kantor desa atau kelurahan, mengantre, dan menunggu proses yang cukup panjang. Namun kini, berkat inovasi layanan digital dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), semua bisa dilakukan secara online.      Beberapa daerah di Indonesia telah menyediakan layanan pengurusan surat pindah secara daring melalui website resmi Disdukcapil kabupaten/kota masing-masing atau lewat aplikasi seperti DUKCAPIL ONLINE atau SIPINDUK (Sistem Informasi Pelayanan Penduduk). Berikut langkah-langkah umum yang bisa diikuti: 1. Masuk ke website/aplikasi resmi Disdukcapil tempat...

Fenomena Api Biru di Gunung Papandayan, 12 Juli: Keindahan Alam yang Langka dan Misterius

          Pada tanggal 12 Juli 2025, Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali mencuri perhatian publik. Bukan karena aktivitas vulkanik yang mengancam, tetapi karena kemunculan fenomena langka berupa “api biru” yang terlihat di sekitar kawah aktif gunung tersebut. Fenomena ini langsung menghebohkan masyarakat sekitar, pendaki, serta para pemerhati alam dan geologi.         Api biru atau blue flame adalah fenomena alam yang jarang terjadi dan biasanya hanya bisa ditemukan di beberapa tempat di dunia, salah satunya di Kawah Ijen, Banyuwangi. Kemunculannya di Gunung Papandayan mengejutkan banyak pihak karena selama ini gunung tersebut tidak dikenal sebagai lokasi munculnya api biru.         Menurut kesaksian beberapa pendaki yang berada di lokasi pada malam hari, cahaya biru tersebut mulai terlihat sejak pukul 02.00 dini hari, muncul dari celah-celah batu di sekitar Kawah Mas dan Kawah Baru. Api biru itu tamp...